Senin, 06 Desember 2010

MENATAP MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK

-->
Pernah mendengar kisah ini ? sewaktu istirahat siang tiga orang siswa mengambil bekal masing-masing yang dibawa dari rumah. Siswa pertama yang bernama Amin membuka bungkusannya sambil berkata, “yaa, ikan asin lagi deh, ikan asin lagi, ikan asin lagi….”.siswa kedua yang bernama Riski juga memeriksa bungkusannya dan berkomentar, “awwah, lagi-lagi telur, kemarin telur sekarang telur lagi…”. Dan siswa ketigapun juga tidak mau kalah maka segeralah riduwan memeriksa bungkusan yang ia bawa dari rumah untuk melihat apa isi lauknya, dan ketika ia melihatnya ia pun berujar, “duh, tempe lagi-lagi…” kemudian ketiganya berbincang sejenak dan sama-sama memutuskan tidak usah memakan bekal yang mereka bawa hari itu….sekaligus berfikir menu yang lebih baik buat bekal esok hari.
Hari berikutnya mereka kembali makan siang bersama. Riduwan membuka bungkusannya dan berkata dengan riang, “isinya pecel sama kerupuk.” Amin juga melihat isi 

Kamis, 02 Desember 2010

MENENTUKAN SAHABAT SEJATI

-->
Jika engkau hendak mencari sahabat dalam menuntut ilmu dan dalam hal keagamaan dan duniawi, maka telaahlah apakah dia memiliki lima sifat di bawah ini :
Pertama ialah pandai. Tak ada baiknya bersahabat dengan orang bodoh, bersahab dengan orang semacam itu akan membuatmu terasing dan terkebelakang. Meski ia berupaya berbuat untukmu, namun perbuatannya itu merugikanmu. Musuh yang pandai adalah lebih baik daripada kawan yang bodoh. Ali ra berkata “janganlah berteman dengan sibodoh! 

THE CONCEPT OF KNOWLEDGE

-->
There is some of the terms used for the science, such as term, science, knowledge, al 'ilm, and science. Perhaps to simplify the problem of the four issues is considered to have significance and meaning of the same. But in a scientific discussion that each term has a different meaning womb. Not simply because the origin of language, but also the substance of the meaning of the each term. 

Problematika Dalam Filsafat Ilmu

-->A.        Problem Rasionalisasi Ilmu Pengetahuan
Rasionalisasi lebih tepat diterapkan terhadap pengetahuan yang tidak ilmiah dan irasional, meskipun semua pengetahuan memerlukan rasionalisasi. Pembuktian-pembuktian ilmiah mrupakan salah satu upaya rasionalisasi, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Filsafat ilmu lebih mengedapankan penggalian ontologis dalam melakukan rasionalisasi, sehingga pembenaran terhadap pengetahuan dicirikan oleh pendekatan logika. Oleh karena itu, problematika pertama dalam filsafat ilmu terletak pada penerapan logika. Jika logikanya tumpul, belajar filsafat lebih cepat